KROMATOGRAFI

Published Januari 12, 2012 by fajarsundari146

Identifikasi BKO dalam Jamu Asam Urat “ Brantas ” dengan Kromatografi Lapis Tipis 

PENDAHULUAN

  1. Tinjauan Pustaka

         Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmailoff dan Schraiber pada tahun 1938. KLT merupakan bentuk kromatografi planar, selain kromatografi kertas dan elektroforesis. Pada KLT, fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, pelat alumunium, atau pelat plastik. Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara menaik (ascending), atau karena pengaruh gravitasi pada pengembangan secara menurun (descending).

Beberapa keuntungan kromatografi lapis tipis :

  1. KLT lebih murah dan mudah dalam pelaksanaanya disbanding kromatografi kolom
  2. Peralatan yang digunakan lebih sederhana, digunakan untuk tujuan analisis.
  3. Dapat dilakukan dilakukan elusi secara menaik (ascending), menurun (descending) atau dengan cara elusi dua dimensi.
  4. Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna, fluoresensi atau radiasi dengan menggunakan sinar ultraviolet. (Gandjar,I.G, Rohman,A.,2007)

Kromatografi lapis tipis ialah metode pemisahan fisiko kimia. Lapisan yang memisahkan, yang terdiri atas bahan berbutir-butir (fase diam), ditempatkan pada penyangga berupa pelat gelas, logam, atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisah berupa larutan, ditotolkan berupa bercak atau pita (awal). Setelah pelat atau lapisanditaruh di dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak). Pemisahan terjadi selama perambatan kapiler (pengembangan). Selanjutnya senyawa yang tidak berwarna  harus ditampakkan (dideteksi). Untuk campuran yang tidak diketahui, lapisan pemisah (sifat penjerap) dan sifat larutan pengembang harus dipilih dengan tepat, karena keduanya bekerja sama untuk mencapai pemisahan. Selain itu, hal yang juga penting adalah memilih kondisi kerja yang optimum yang meliputi sifat pengembangan, atmosfer, bejana, dan lain-lain.  (Stahl, Egon.1985)

Derajat referensi pada kromatografi lempeng biasanya dinyatakan sebagai faktor retensi

Jarak yang telah ditelah ditempuh pelarut dapat di ukur dengan mudah dan jarak tempuh cuplikan di ukur pada pusat bercak itu, atau pada titik kecepatan maksimumnya.

Jika dilihat mekanisme pemisahannya, fase diam dikelompokkan :

  1. Kromatografi serapan  (silica gel, aluminium, keiselguhr)
  2. Kromatografi partisi (selulosa, keiselguhr, silica gel)
  3. Kromatografi penukar ion (penukar ion selulosa, resina penukar ion)
  4. Kromatografi Gel (sphadex, Biogel)

Fase diam yang sering digunakan pada kromatograafi lapis tipis :

  1. silica gel
  2. aluminium
  3. keiselguhr
  4. selulosa

Sistem yang paling sederhana dari fase gerak pada KLT ialah campuran 2 pelarut organik karena daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal. Berikut adalah beberapa petunjuk dalam  dan mengoptimasi fase gerak :

  1. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena KLT sensitive
  2. Daya gerak elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga Rf terletak antara 0,2-0,8 memaksimalkan pemisahan
  3. Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti silica gel, polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi solute yang berarti juga menentukan nilai Rf. Penambahan pelarut polar yang bersifat sedikit polar seperti dietil eter kedalam pelarut non polar seperti metil benzene akan meningkatkan harga Rf secara signifikan
  4. Solut-salut ionic dan solute – solute polar lebih baik digunakan campuran pelarut sebagai fase geraknya, seperti campuran air dan methanol dengan perbandingan tertentu. (Sudjadi, 1988)
  1. Tujuan

-          Mendeskripsikan teori dan prinsip dari Kromatografi Lapis Tipis

-          Menentukan fase gerak terbaik untuk pemisahan

-          Menunjukkan analisis kuantitatif untuk identifikasi bahan kimia dalam obat tradisional

METODOLOGI

  1. ALAT DAN BAHAN

››Alat : 1. Referensi campuran obat

 2. Lampu UV

             3. Lempeng KLT : silika gel GF 254

             4. Satu set peralatan KLT

››Bahan : 1. Jamu

               2. Uap Iodin

               3. Fase gerak untuk KLT

PREPARASI SAMPEL

Sampel ditimbang dan dilarutkan dalam etanol 5 ml àdisiapkan ruang pengembanganàpenandaan dan pelabelan plat KLT à dilakukan penjenuhan à penotolan sampel dan senyawa pembanding à pembacaan hasil elusi dengan spektro UV 254 nm dan UV 366 nm àdihitung nilai Rf.

CARA KERJA

Ruang pengembangan disiapkan

Lempeng KLT diberi label dan diberi tanda

Stok larutan pada referensi campuran obat diberi titik

Lempeng KLT dikembangkan 1 bidang eluen ditandai

Kromatografi digambar dan ditandai dibawah sinar Uv dan uap iodine

Dihitung ruang Rf dari referensi campuran obat

Fase gerak ditemukan untuk pemisahan paling baik dari campuran obat

Sampel larutan dan referensi ditandai pada lempeng KLT

Lempeng KLT dikembangkan dengan sistem paling baik dari nomor 7

Diidentifikasi campuran obat dalam jamu (sampel)

HASIL PERCOBAAN

›Standar Campuran     : Antalgin 0,1% dan Paracetamol 0,1%

›Standar Pembanding : 1. Antalgin 0,1%

                                      2. Paracetamol 0,1%

›Optimasi 1 :

›Fase diam       : Silika gel GF 254      (ukuran 3x10cm)

›Fase gerak      : Metanol                     (volume 5mL)

no Senyawa Rf Uv 254 nm Uv 366 nm Uap iodine
1 Antalgin 0,1% 0,8125 pemadaman Tidak berwarna Kuning kecoklatan
2 Paracetamol 0,1% 0,75 Pemadaman Tidak berwarna Kuning kecoklatan
3

Campuran

0,75

Pemadaman

(berfluoresensi)Tidak berwarna

(tidak berfluoresensi)Kuning kecoklatan

Analisis Hasil :

• Fase gerak (metanol)tidak dapat memisahkan antalgin dan paracetamol.

• Metanol bersifat polar karena memiliki gugus oH,silika gel bersifat polar.

• Perlu adanya optimasi fase gerak sehingga mampu memisah dengan campuran analit.

›Optimasi 2

›Fase diam       : Silika gel GF 254 (polar) 3×10 cm

›Fase gerak      : Metanol : Kloroform (1:9)=0,5mL : 4,5mL

no Senyawa Rf Uv 254 nm Uv 366 nm Uap iodine
1 Antalgin 0,1% 0,0625 Pemadaman Tidak berwarna Kebiruan
2 Paracetamol 0,1% 0,525 Pemadaman Tidak berwarna Kuning kecoklatan
3

Campuran

Rf1=0,525

Rf2=0,0625

Pemadaman

(berfluoresensi)Tidak berwarna

(tidak berfluoresensi)Kuning kecoklatan

 

›Analisis Hasil

• Paracetamol lebih non polar dibanding antalgin,karena fase geraknya non polar. Paracetamol mengikuti fase geraknya (4,2cm) dan antalgin (0,5cm).

• Fase geraknya (metanol : kloroform) dapat memisahkan antalgin dan paracetamol dalam senyawa campuran antalgin+paracetamol.

• Antalgin lebih polar dibanding paracetamol karena bentuk garam.

2) ◦ Sampel                  : Jamu Asam Urat (Brantas)

◦ Preparasi Sampel   :

         Berat sampel   : 200 mg

         Pelarut             : etanol absolut 96% (3:7)

                                   Volume 5mL

◦ Pembanding                       : 1.Antalgin

                                   2. Fenilbutazon

                                   3. Na Diklofenak

                                   4. Paracetamol

◦ Fase diam              : Silika gel GF 254 nm

◦ Fase gerak              : Heksan : etil asetat (1:7)

                                   (1,5mL : 3,5mL)

◦ Perhitungan Rf

-Jarak yang ditempuh fase gerak = 8cm

-senyawa antalgin

Jarak yang ditempuh = 0cm

Rf = 0cm/8cm = 0

-senyawa fenilbutazon

Jarak yang ditempuh = 6,2cm

Rf = 6,2cm/8cm = 0,775cm

-sampel jamu

Jarak yang ditempuh = 1. 6,2cm

                                   2. 2,8cm

Rf1 = 6,2cm/8cm = 0,775cm            ;           Rf2 = 2,8cm/8cm = 0,35cm

            Senyawa Na diklofenak

-          Jarak yang ditempuh : 4 cm

-          Rf = = 0,5cm

    Senyawa Paracetamol

-          Jarak yang ditempuh : 2,8 cm

-          Rf  = 0,35 cm

Dengan membandingkan harga Rf sample dengan Rf senyawa pembanding lainnya, nilai Rf fenilbutazon dan paracetamol yang identik dengan Rf sample

IDENTIFIKASI BAHAN KIMIA OBAT DALAM JAMU ASAM URAT

Sampel                                    : BRANTAS

-          Produsen : PJ. Ampuh Jaya

-          No Registrasi : POM TR No : 993 205 591

-          Komposisi : Gynura pseudo china DC 20%, Phaleria Macrocarpa Fructus cortex 15%, Plantago mayor 20%, Capsicum frustescens fructus 10%, Andrographidis herba 15%, dan bahan – bahan lain hingga 100%.

-          Indikasi : mencegah dan mengobati asam urat, nyeri pada persendian, bengkak merah pada pergelangan kaki, nyeri tulang, pengapuran, rheumatik, pegal – pegal, sakit pinggang, kolesterol, stroke, dll.

-          Isi

Preparasi Sampel         :

-          Berat sampel   : 200 mg

-          Pelarut             : etanol absolut ( volume 5 ml )

Pembanding                :

  1. Antalgin          (0,5%)
  2. Fenilbutazon   (0,1%)
  3. Na diklofenak (0,1%)
  4. Parasetamol     (0,1%)

Fase Diam                   : Silika gel GF 254                  (ukuran 3 x 10 cm)

Fase Gerak                  : Heksan : Etil Asetat = 3:7     (volume 5 ml)

Hasil                            :

No

Senyawa

Rf

UV 254 nm

UV 366 nm

Uap I₂

1.

Antalgin

0

Pemijaran

Tidak berwarna

Tidak berwarna

2.

Fenilbutazon

0,775

Pemadaman

Tidak berwarna

Kuning

3.

Na diklofenak

0,5

Pemadaman

Tidak berwarna

Kuning

4.

Parasetamol

0,363

Pemadaman

Tidak berwarna

Kuning

5.

Sampel 1

0,313

Pemadaman

Tidak berwarna

Kuning

Sampel 2

0,775

Pemadaman

Tidak berwarna

Kuning

Analisis Hasil              :

            Dari data hasil pengamatan BKO yang dilakukan dengan KLT. Pada BKO jamu asam urat  “Brantas”. Mengandung Fenilbutazon dan Paracetamol. Karena Rf pada sampel identik dengan  2 senyawa tersebut.

-          Fase diam silika gel GF 254 bersifat polar dengan fase gerak bersifat kurang polar (non polar)

-          PCT lebih polar dibanding dengan antalgin

-          Heksan – Etil asetat berperan sebagai fase gerak dengan perbandingan 3:7

PERHITUNGAN

1) Standard campuran      :Antalgin 0,1% dan PCT 0,1%

    Standard Pembanding : Antalgin 0,1% dan PCT 0,1%

Optimasi     1

Fase diam        :Silika gel GF 254 (ukuran 3×10)

Fase gerak       :Metanol  5 ml (polar) (vol 5 ml)

Perhitungan  Rf

Jarak yang di tempuh fase gerak =8 cm

Senyawa antalgin :

Jarak yang di tempuh =6,5 cm

Rf =6,5 cm /8 cm=0,8125

Senyawa PCT

Jarak yang ditempuh =6 cm

Rf =6 cm/8 cm=0,75 cm

Senyawa campuran (antalgin +PCT)

Jarak yang di tempuh =6 cm

Rf =6 cm /8 cm=0,75 cm

Optimasi  2…

Fase diam        :silica gel GF 254 (polar) (ukuran 3×10 cm)

Fase gerak       :Metanol : Kloroform (1:9) (volume 0,5 ml : 4,5 ml)

Perhitungan Rf

Jarak yang ditempuh fase gerak =8 cm

Senyawa antalgin

Jarak yang ditempuh =0,5 cm

Rf=0,5 cm/8 cm =0,0625 cm

Senyawa PCT

Jarak yang di tempuh =4,2 cm

Rf =4,2 cm/8 cm=0,525 cm

Senyawa campuran (antalgin+PCT)

Jarak yang ditempuh = 1) 4,2 cm    2)0,5 cm

Rf =4,2 cm /8 cm =0,525 cm  Rf2 =0,5 cm/8 cm =0,0625 cm………….

PEMBAHASAN

Percobaan kromatografi  ini tentang uji analisis kualitatif dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT) percobaan ini bertujuan untuk mengetahui ,mengidentifikasi ada tidaknya senyawa bahan kimia obat yang terkandung dalam obat-obat tradisional.Sampel jamu atau obat tradisional yang kami analisis adalah obat asam urat (Brantas).Dalam jamu tersebut dicurigai adanya bahan kimia obat dalam campurannya  Campuran jamu atau obat tradisional ini diduga mengandung bahan kimia obat seperti parasetamol,fenilbutazon,antalgin,dan Na diklofenat.Maka dalm analisis kualitatif ini senyawa obat-obatan tersebut  digunakan sebagai pembanding dalam kromatogrfi lapis tipis.

Kromatografi lapis tipis termasuk dalm kromatografi planar ,membutuhkan dua fase yaitu fase diam dan fase gerak .dinamakan kromatografi planar karena fase diamnya berupa lapis tipis yang seragam pada permukaan bidang datar .Sedangkan fase geraknya akan berjalan sepanjang fase diam karena gaya kapilaritas.Fase diam akan membawa analit melewati fase diam berdasarkan sifat kepolarannya.Pada percobaan ini fase diam yang digunakan adalah silica gel GF 254.

Untuk melihat pemisahan terbaik yang kita lakukan adalah pengoptimasian fase gerak,pola optimasi  pertama  menggunakan fase gerak methanol yang bersifat polar ,dan optimasi kedua menggunakan fase gerak berupa campuran methanol dan kloroform (1:9) yang bersifat non polar .Sedangkan fase diamnya adalah silica gel GF254.Setelah itu kedua fase gerak dimasukkan ke dalam dua chamber yang berbeda untuk proses penjenuhan agar elusi berjalan lancer dan optimal.Sampel  yang digunakan adalah campuran antara antalgin dan paracetmol .Senyawa pembanding ditotolkan pada fase diam begitu juga dengan senyawa .Penotolan harus serba hati-hati ,jangan terlalu tebal dan jangan terlalu tipis ,di perhatikan batas antara totolan dan pelarut (fase gerak)agar totolan tidak larut dalam fase gerak sehingga tidak terjadi elusi .Setelah proses penjenuhan selesai di tandai dengan adanya titik air atau embun padas chamber atau kertas saring  seluruhnya basahdari bawah sampai atas (garis yang sudah ditentukan).Setelah dilakukan proses elusi ,kemudian dilakukan penandaan kromatogram dibawah uv 254 dan366 dan uap iodine.

Pada optimasi menggunakan methanol di hasilkan Rf antalgin 0,8125 ,Rf PCT 0,75 sehingga  dihasilkan resolusi pemisahan antalgin dan paracetamol kurang optimal ,ini disebabkan karena fase geraknya bersifat polar ,fase diamnya juga polar.

Pada optimasi kedua Rf antalgin 0,0625 dan Rf PCT 0,525.Rf sampel 0.525 dan 0,0625 karena fase geraknya bersifat nono polar…………..

Kesimpulan

  1. Fase diam : Silika Gel GF 259, Fase gerak : Metanol
  2. Perlu adanya optimasi pada fase gerak : metanol bertujuan untuk bisa memisahkan senyawa campuran dari analitnya.
  3. Antalgin bersifat lebih polar dibanding dengan paracetamol karena antalgin berupa dalam bentuk garam.
  4. Pada pengidentifikasian BKO kami menyimpulkan bahwa BKO yang terkandung dalam jamu asam urat ”Brantas” diduga adalah senyawa fenil butazon dan paracetamol.
  5. Rumus Rf
  6. Rf Antalgin                 : 0

Rf Fenil Butazon        : 0,775

Rf Na Diklofenak       : 0,5

Rf Paracetamol                       : 0.363

Rf Sampel Brantas      : 0.313

Rf Sampel Brantas      : 0,775

Daftar Pustaka

-   Gandjar, I. G., Rohman A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar : Yogyakarta

-   Stahl, Egon, 1984, Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi, ITB : Bandung

-   Sudjadi, 1998, Metode Pemisahan, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada Press : -Yogyakarta

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: