KAYU NANGKA (Artocarpus heterophylla Lamk.)

Published Januari 12, 2012 by fajarsundari146

A.   PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan hayati terbesar kedua setelah Brazil. Hutan hujan tropis Indonesia memiliki sekitar 3000 spesies tumbuhan berbunga (Zuhud dan Haryanto, 1994). Banyak sekali tumbuhan berkhasiat obat di sekitar masyarakat. Keanekaragaman ini merupakan modal potensial untuk pengembangan obat baru.

Nangka (Artocarpus heterophylla Lamk.) merupakan tumbuhan lokal yang terdapat di berbagai daerah di Indonesia. Pohon nangka ini biasanya dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Kandungan kimia dalam kayu nangka antara lain morin, sianomaklurin (zat samak), flavon, dan tanin. Selain itu, dibagian kulit kayu nangka juga terdapat senyawa flavonoid yang baru, yakni morusin, artokarpin, artonin E, sikloartobilosanton, dan artonol B (Ersam, 2001). Bioaktivitas senyawa flavonoid tersebut terbukti secara empirik sebagai antikanker, antivirus, antiinflamasi, diuretik, dan antihipertensi (Ersam, 2001).

Berbagai penelitian telah dilakukan dalam rangka mengeksplorasi pengembangan tumbuhan nangka sebagai senyawa antikanker, diantaranya adalah senyawa flavon yang berasal dari Artocarpus memperlihatkan bioaktivitas sebagai antitumor yang tinggi pada sel leukemia L 1210 (Suhartati, 2001). Artokarpin hasil isolasi kayu pada nangka memiliki aktivitas yang poten sebagai whitening agent dan antikanker kulit (Arung et al., 2008)

Kandungan artokarpin dan artonin E yang merupakan senyawa turunan flavonoid dari tumbuhan sukun atau kluwih yang terdapat pula pada nangka, telah dilaporkan sangat aktif pada uji sitotoksik terhadap beberapa sel kanker yaitu A549 (sel kanker paru-paru), MCF-7 dan MDA-MB-231 (sel kanker payudara), IA9, HCT-8 (sel kanker usus), KB, KB-Vin dan P-388 (Syah, 2005).

Obat tradisional biasanya dibuat dalam bentuk ekstrak karena tanaman obat tidak lagi acceptable jika digunakan dalam bentuk bahan utuh (simplisia). Bahan baku obat tradisional berasal dari hasil pertanian atau kumpulan tumbuhan liar kandungan kimianya tidak dapat dijamin selalu konstan karena ada variabel bibit, tempat tumbuh, iklim, kondisi (umur dan cara panen), serta proses pasca panen dan preparasi akhir (Anonim, 2000). Selain itu kandungan senyawa kimia yang bertanggung jawab terhadap respon biologis harus mempunyai spesifikasi kimia, yaitu informasi komposisi (jenis dan kadar) (Isnawati et al., 2007). Oleh karena itu penetapan standardisasi suatu simplisia dan ekstrak perlu dilakukan guna menjamin bahwa bahan suatu produk obat tradisional dapat terjamin mutunya.

B.             ISI

 Tanaman asal Tumbuhan Nangka (Artocarpus heterophylla Lamk.)

  1. Taksonomi tanaman

Sistematika Tumbuhan Nangka (Artocarpus heterophylla Lamk.)

Kedudukan tumbuhan nangka (Artocarpus heterophylla Lamk.)

Divisio                         : Spermatophyta

Sub Divisio                  : Angiospermae

Classis                         : Dicotyledonae

Ordo                            : Urticales

Famili                           : Moraceae

Genus                          : Artocarpus

Spesies                         : Artocarpus heterophylla Lamk

(Van Steenis, 1992)

  1.  Nama Daerah dan Nama Asing

Di Indonesia pohon nangka memiliki beberapa nama daerah antara lain nongko/nangka (Jawa, Gorontalo), langge (Gorontalo), anane (Ambon), lumasa/malasa (Lampung), nanal atau krour (Irian Jaya), nangka (sunda). Beberapa nama asing yaitu: jackfruit (Inggris), nangka (Malaysia), kapiak (Papua Nugini), liangka (Filipina), peignai (Myanmar), khnaor (Kamboja), mimiz, miiz hnang (laos), khanun (Thailand), mit (Vietnam)                                                     ( Prihatman, 2000)

  1. Deskripsi simplisia

Daun terbentuk bulat telur dan panjang, tepinya rata, tumbuh secara berselang-seling, dan bertangkai pendek, permukaan atas daun berwarna hijau tua mengkilap, kaku, dan permukaan bawah daun berwarna hijau muda. Bunga tanaman nangka berukuran kecil, tumbuh berkelompok secara rapat tersusun dalam tandan, bunga muncul dari ketiak cabang atau pada cabang-cabang besar, bunga jantan dan betina terdapat dalam sepohon (Rukmana, 1998).

B.2. Kandungan Kimia

  1. Nama senyawa

Flavonoid: morin, artocarpon, artocarpin, flavonoid; terprenilasi: artonin, artocarpin, cudraflavone C, 6-prenylapigenin, kuwanon C, norartocarpin dan albanin A.

  1. Struktur senyawa artocarpin
  1. Golongan senyawa

    Termasuk golongan flavonoid.

  1. Jalur flavonoid

 Flavonoid yang dihasilkan oleh Artocarpus ialah adanya substituen isoprenil pada C-3 dan pola 2’,4’-dioksigenasi atau 2’,4’,5’-trioksigenasi pada cincin B dari kerangka dasar flavon. Ciri ini diwujudkan pada berbagai jenis senyawa, seperti flavon dengan prenil bebas pada C-3, piranoflavon, oksepinoflavon, oksosinoflavon, dihidrobenzosanton, dan kuinonodihidrobenzosanton. Senyawa-senyawa jenis ini belum pernah ditemukan pada tumbuhan lain. Selain mempunyai struktur molekul yang unik, beberapa senyawa flavon yang berasal dari Artocarpus juga memperlihatkan bioaktivitas antitumor yang tinggi pada sel leukemia L 1210 (Suhartati, 2001).

  1. Sifat fisika dan kimia :

Mikroskopi4

Pada penampang melintang kayu tampak silem dengan jari-jari empulur terdiri dari 2-3 baris sel; berkas pengangkut dengan trakea besar umumnya berkelompok, kadang-kadang tunggal. Parenkim silem, dinding bernoktah; serabut berisi hablur kalsium oksalat berbentuk prisma.

Serbuk berwarna coklat kekuningan. Fragmen pengenal adalah trakea lebar, dinding bernoktah; berkas pengangkut dengan penebalan dinding seperti tangga atau jala; parenkim bernoktah; serabut panjang; dinding tebal, lumen lebar, ujung runcing, jari-jari teras bernoktah.

 

Gambar 1. Penampang melintang kayu nangka

                        Keterangan:

  1. Serabut
  2. Butir pati
  3. Trakeida
  4. Trakea
  5. Parenkim silem
  6. HablurKalsium Oksalat
  7. Jari-jari empulur

 

Gambar 2.  Serbuk kayu nangka

            Keterangan:

  1. Butir pati
  2. Hablur Kalsium Oksalat
  3. Berkas pengangkut penebalan jala
  4. Berkas pengangkut penebalan tangga
  1. Parenkim silem bernoktah
  2. Jari-jari teras
  3. Serabut
  4. Trakea penebalan noktah

B.3. Efek In Vitro atau Farmakologi

Khasiat kayu pada tumbuhan nangka yaitu sebagai anti spasmodik dan sedativ, daging buah sebagai ekspektoran, daun muda sebagai pakan ternak. Kayu nangka dianggap lebih unggul daripada jati untuk pembuatan meubel, konstruksi bangunan pembubutan, tiang kapal, untuk tiang kuda dan kandang sapi, dayung, perkakas, dan alat musik. Getah kulit kayu juga telah digunakan sebagai obat demam, obat cacing dan sebagai antiinflamasi. Pohon nangka dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional.

Artokarpin yang merupakan senyawa hasil isolasi kayu nangka memiliki aktivitas yang poten sebagai whitening agent dan antikanker kulit. Dari hasil evaluasi sitotoksik dalam sel melanoma B16 pada artokarpin menunjukkan IC50 yaitu 10,3 μM dan penetapan kadar hambatan biosintesis melanin dengan IC50 506,7 μM tanpa sitotoksik (Arung et al., 2008).

B.4. Analisis

  1. Ekstraksi dengan cara maserasi dan isolasinya

Ekstraksi adalah penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah obat dan menggunakan pelarut yang dipilih dimana zat yang diinginkan dapat larut. Bahan mentah obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan ataupun hewan tidak perlu diproses lebih lanjut kecuali dikumpulkan atau dikeringkan. Tiap-tiap bahan mentah obat disebut ekstrak, tidak mengandung hanya satu unsur saja tetapi berbagai unsur, tergantung pada obat yang digunakan dan kondisi dari ekstraksi (Anshel, 1989).

Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi di dalam sel dengan yang di luar sel. Maka larutan yang terpekat di desak keluar. Pada penyarian dengan cara maserasi perlu dilakukan pengadukan. Pengadukan diperlukan untuk menentukan konsentrasi larutan di luar bulk serbuk simplisia. Sehingga dengan pengadukan tersebut tetap terjaga adanya derajat perbedaan konsentrasi yang sebesar-besanya antara larutan di dalam dengan larutan di luar sel (Anonim, 1986)

Maserasi umumnya dilakukan dengan cara: 10 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok dimasukkan dalam bejana, kemudian dituangi dengan 75 bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya, sambil berulang-ulang diaduk. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol atau pelarut lain. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Sedangkan kerugian dari maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna (Anonim, 1986).

  1. Cara analisis kualitatif dan kuantitatif

Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan metode pemisahan fitokimia. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) adalah teknik yang paling cocok untuk analisis.

Metode ini hanya memerlukan waktu yang sangat sedikit untuk analisis dan jumlah cuplikan yang sangat sedikit. Lapisan yang memisahkan terdiri atas bahan berbutir-butir yang disebut fase diam, ditempatkan pada penyangga berupa plat gelas, logam atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisahkan berupa larutan, ditotolkan pada bercak atau pita. Selain itu plat atau lapisan ditaruh dalam bejana pengembang yang berisi larutan pengembang (fase gerak), pemisahan terjadi selama perembatan kapiler (pengembangan). Selanjutnya senyawa yang tidak berwarna harus ditempatkan atau dideteksi dengan pereaksi deteksi (Stahl, 1985).

Identifikasi dari senyawa-senyawa yang terpisah pada lapisan tipis lebih baik dikerjakan dengan pereaksi lokasi kimia dan reaksi warna. Tetapi lazimnya untuk identifikasi menggunakan lampu UV 254 nm dan 366 nm dan bercak dihitung harga Rf-nya. Angka Rf berjangka antara 0,00 dan 1,99 dan hanya dapat ditentukan dua desimal. hRf adalah angka Rf dikalikan faktor 100 (h), menghasilkan nilai berjangka 0-100 (Stahl, 1985).

Sedangkan pereaksi semprot atau penampak bercak digunakan pada deteksi senyawa tertentu. Misalnya dalam tanaman yang banyak mengandung flavonoid menggunakan AlCl3 dan minyak atsiri menggunakan vanilin asam sulfat (Markham, 1988).

Penggunaan Kromatografi Lapis Tipis (KLT),yaitu :

  1.                                   i.          Analisis Kualitatif

KLT dapat digunakan untuk uji identifikasi senyawa baku. Parameter pada KLT yang digunakan untuk identifikasi adalah nilai Rf. Dua senyawa dikatakan identik jika mempunyai nilai Rf yang sama jika diukur pada kondisi KLT yang sama dengan 3 sistem eluen yang berbeda.

  1.                                 ii.          Analisis Kuantitatif

Ada 2 cara yang digunakan untuk analisis kuantitatif dengan KLT. Pertama, bercak diukur langsung pada lempeng dengan menggunakan ukuran luas atau dengan teknik densitometri. Cara kedua adalah dengan mengerok bercak lalu menetapkan kadar senyawa yang terdapat dalam bercak tersebut dengan metode analisis yang lain, misalkan dengan metode spektrofotometri. Pada cara pertama tidak terjadi kesalahan yang disebabkan oleh pemindahan bercak atau kesalahan ekstraksi, sementara pada cara kedua sangat mungkin terjadi kesalahan karena pengambilan atau karena ekstraksi (Gandjar dan Rohman, 2007).

Analisis kuantitatif dari suatu senyawa yang telah dipisahkan dengan KLT biasanya dilakukan dengan densitometer langsung pada lempeng KLT (atau secara in situ). Densitometer dapat bekerja secara serapan atau fluoresensi. Kebanyakan densitometer mempunyai sumber cahaya, monokromator untuk memilih panjang gelombang yang cocok, sistem untuk memfokuskan sinar pada lempeng, pengganda foton, dan rekorder (Gandjar dan Rohman, 2007).

  1. Standarisasi

Parameter Non Spesifik

Pemeriksaan parameter non spesifik berdasarkan Materia Medika Indonesia dan Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat meliputi:

  1. 1.      Kadar Air

Penetapan kadar air ditetapkan dengan cara distilasi toluene. Toluene yang digunakan dijenuhkan dengan air terlebih dahulu, setelah dikocok didiamkan, kedua lapisan air dan toluene akan memisah, lapisan air dibuang. Sebanyak 2,0 g ekstrak yang ditimbang dengan seksama dimasukkan ke dalam labu alas bulat dan ditambahkan toluene yang telah dijenuhkan dengan air. Alat dipasang dan toluene dituangkan ke dalam tabung penerima melalui pendingin. Labu dipanaskan hati-hati selama 15 menit, setelah toluene mulai mendidih, penyulingan diatur 2 tetes/detik, lalu 4 tetes/detik. Setelah semua toluene mendidih, pendingin dicuci dengan toluene sambil dibersihkan dengan sikat kecil dan sulingan dilanjutkan selama 5 menit. Dibiarkan tabung penerima mendingin sampai temperatur kamar. Setelah lapisan air dan toluene memisah sempurna, volume air dibaca dan dihitung kadar air dalam persen terhadap berat ekstrak semula.

Hasil: 2,23% – 3,96%

Hasil penetapan kadar air dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil penetapan kadar air

No.

Asal

Simplisia

Jumlah ekstrak (g)

Volume air (mL)

Kadar air (%)

Kadar air rata-rata (%)

Sukoharjo

2,0013

0,074

3,698

3,964

1.

2,0007

0,076

3,799

2,0017

0,088

4,396

Kendal

2,0006

0,068

3,399

3,332

2.

2,0015

0,070

3,497

2,0007

0,062

3,099

Karanganyar

2,0002

0,05

2,500

2,233

3.

2,0014

0,04

1,999

2,0004

0,044

2,200

 

2.      Kadar Abu

Lebih kurang 2,0 g ekstrak ditimbang seksama dimasukkan ke dalam krus silikat yang telah dipijarkan, ditara dan diratakan. Kemudian dipijarkan kembali perlahan-lahan hingga arang habis, didingankan dan ditimbang. Jika cara ini arang tidak dapat dihilangkan, ditambahkan air panas, disaring melalui kertas saring bebas abu. Dipijarkan sisa dan kertas saring dalam krus yang sama. Dimasukkan filtrat ke dalam krus, diuapkan, dipijarkan hingga bobot tetap dan ditimbang. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan. Penetapan dilakukan triplo untuk masing-masing ekstrak.

Hasil: 0,333% – 0,925%

Hasil penetapan kadar abu total dapat dilihat pada Tabel 2

Tabel 2. Hasil kadar abu total

No.

Asal Simplisia

Berat krus kosong

Berat sampel

Berat kering krus+sampel

Berat abu

Kadar abu total

Kadar rata-rata

(g)

(g)

(g)

(g)

(%)

(%)

Sukoharjo

28,2580

2,0001

28,2755

0,0175

0,875

0,925

1.

32,2568

2,0014

32,2754

0,0186

0,929

32,3563

2,0012

32,3757

0,0194

0,969

Kendal

33,4366

2,0018

33,4492

0,0126

0,629

0,581

2.

31,2488

2,0016

31,2615

0,0127

0,634

30,6799

2,0017

30,6895

0,0096

0,480

Karanganyar

29,1070

2,0019

29,1143

0,0073

0,365

0,333

3.

31,8025

2,0002

31,8079

0,0054

0,270

30,1696

2,0011

30,1769

0,0073

0,365

3.       Kadar Abu tidak Larut dalam Asam

Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu total, dididihkan dengan 25 mL asam sulfat encer P selama 5 menit, kumpulkan bagian yang tidak larut asam, saring melalui kertas saring bebas abu, cuci dengan air panas, pijarkan hingga bobot tetap lau timbang. Hitung kadar abu yang tidak larut dalam asam terhadap bahan yang telah dikeringkan. Penetapan dilakukan triplo untuk masing-masing ekstrak.

Hasil: 0,08% – 1,03%

Hasil penetapan kadar abu tidak larut dalam asam dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3.  Hasil kadar abu yang tidak larut asam sulfat encer P

No.

Asal Simplisia

Kadar abu total

(%)

Kadar abu larut asam

(%)

Kadar abu tak larut asam

(%)

Kadar abu rata-rata tak larut asam

(%)

Sukoharjo

0,875

0,615

0,260

0,242

1.

0,929

0,754

0,175

0,969

0,679

0,290

Kendal

0,629

0,579

0,050

0,076

2.

0,634

0,519

0,115

0,480

0,415

0,065

Karanganyar

0,365

3.

0,270

0,365

4.      Sisa Pelarut Organik (Etanol)

Cara Destilasi:

Untuk cairan yang diperkirakan mengandung etanol 30% atau kurang. Timbang sejumlah 2,0 gram ekstrak kental dilarutkan dalam air sampai 25,0 ml kemudian dimasukkan ke dalam labu destilasi. Atur suhu destilat pada 78,5oC. Catat destilasi hingga diperoleh destilat lebih kurang 2 ml lebih kecil dari volume cairan uji (destilasi selama 2 jam atau tidak menetes lagi). Tambahkan air sampai 25,0 ml. Tetapkan bobot jenis cairan pada suhu 25oC seperti yang tertera pada Penetapan Bobot Jenis. Hitung persentase dalam volume dari etanol dalam cairan menggunakan Tabel Bobot Jenis dan Kadar Etanol.

Hasil kadar sisa pelarut (etanol): tidak terdeteksi.

Hasil penetapan kadar sisa pelarut organik (etanol) dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil kadar sisa pelarut dan densitas

No.

Asal Simplisia

Bobot piknometer

(g)

Volume piknometer

(ml)

Kadar etanol

(%)

Densitas

(g/ml)

Densitas

rata-rata

(g/ml)

 

 

 

 

Sukoharjo

0

1,02269

1,02357

1.

24,45963

33,2836

0

1,02317

0

1,02484

Kendal

0

1,01933

1,02071

2.

24,45963

33,2836

0

1,02169

0

1,02112

Karanganyar

0

1,02005

1,01812

3.

24,45963

33,2836

0

1,01612

0

1,01819

 

5.      Residu Pestisida untuk Fosfor dan Klor Organik

5.1  Pembuatan Kurva Baku

Baku yang digunakan untuk analsis residu pestisida diantaranya p,p DDT (organochlor) dan Diazinon (Organofosfat). Baku pp DDT dilarutkan dalam Toluen dengan membuat 5 seri konsentrasi 1 ppm, 2.5 ppm, 5 ppm, 7.5 ppm, 10 ppm. Diukur dengan GC MS Shimadzu QP 2010S dan diperoleh persamaan kurva baku Y = 3.703 X + 15.729 dengan r = 0.997. Larutan Baku Diazinon dilarutkan dalam Petroleum eter : dietil eter (50:50) dengan membuat 5 seri konsentrasi 0.05 ppm, 0.1 ppm, 0.5 ppm, 1.0 ppm, 1.5 ppm. Diukur dengan GC MS Shimadzu QP 2010S dan diperoleh persamaan kurva baku Y = 88.449 X + 58.135 dengan r = 0.990. LOD untuk pp DDT = 14 ppm dan Diazinon = 0.2159 ppm.

5.2  Preparasi Sampel

Residu pestisida untuk fosfor dan klor organik (ppb) dilakukan dengan metode GC MS Shimadzu QP 2010S (Gas Chromatography Massa Spectrophotometer). Prinsip ekstrak dilarutkan dengan etanol 95% dan ditambah petroleum eter disentrifuge sebanyak 3 kali dengan penambahan petreoleum eter, bagian petroleum eter diambil. Diuapkan pada suhu 40-60oC, dilakukan kromatografi kolom menggunakan fase diam florisil dan dialirkan petroleum eter 5 ml, eluen I (PE:Dietil eter) 94%:6%, eluen II (PE: dietil eter) 50%:50 % 10 ml. Eluen I (klor organik) dan eluen II (fosfor organik). Dibaca dengan Gas Chromatography Massa Spectrophotometer yang telah dikondisikan.

Hasil: tidak terdeteksi adanya residu pestisida.

5.1.6 Cemaran Logam Berat

5.1.6.1 Pembuatan Kurva baku

Pembuatan kurva baku diantaranya Pb, Cd, dan As. Larutan induk timbal (Pb) 1000 ppm, dibuat stok larutan standar 10 ppm dengan cara : diambil 1 ml larutan induk 1000 ppm kemudian ditambah aquabidest hingga 100 ml. kemudian dibuat larutan seri kadar Pb 0,05; 0,10; 0,50; 1,00; 1,50; 2,00; 2,50 ppm. Diukur absorbansinya dari larutan standar diperoleh persamaan kurva baku Y = 0.024 X – 0.0014 dengan r = 0.9995.

Larutan induk timbal (Cd) 103 ppm, dibuat stok larutan standar 1000 ppb dengan cara : diambil 0,1 ml larutan induk 103 ppm kemudian ditambah aquabidest hingga 100 ml. kemudian dibuat larutan seri kadar Cd 0,0005; 0,001; 0,005; 0,01; 0,05; 0,1 ppm. Diukur absorbansinya dari larutan standar diperoleh persamaan kurva baku Y = 0.52 X – 0.0013 dengan r = 0.9995. LOD untuk Cd = 0.0083 ppm

Buat kurva baku As dengan konsentrasi 0.5 ppb, 1.0 ppb, 5 ppb, 10 ppb, dan 50 ppb. Diukur absorbansinya dari larutan standar diperoleh persamaan kurva baku Y = 0.0034 X + 0.0021 dengan r = 0.9997.

 

5.1.6.2 Preparasi Sampel

Penetapan kadar As, Pb dan Cd dengan metode AAS. Penetapan kadar ketiga logam berat dengan cara digesti basah. Ditimbang  1 gr ekstrak dan ditambahkan 10 ml HNO3 pekat, setelah itu dipanaskan dengan heating mentel hingga kental atau kering. Ekstrak yang kental dan dingin ditambah aquabidest 10 ml dan asam perkolat 5 ml, kemudian dipanaskan hingga kental dan disaring kelabu ukur 50 ml. Tambahkan aquabidest hingga 50 ml. Sampel diukur dengan AAS, khusus Arsen dengan tambahan alat HVG 1. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui bahwa kadar logam berat ekstrak dari ketiga daerah nilainya tidak melebihi nilai yang diperbolehkan, karena berbahaya bagi kesehatan.

Hasil penetapan cemaran logam berat dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel5.  Hasil cemaran logam berat

Parameter

Sukoharjo

Kendal

Karanganyar

Metode

As (ppm)

ttd

Ttd

Ttd

AAS + HVG 1

Pb (ppm)

ttd

0,0875

ttd

AAS

Cd (ppm)

0,0043

Ttd

0,0051

AAS

Keterangan: ttd: tidak terdeteksi

 

5.1.7 Cemaran Mikroba

5.1.7.1   Persiapan Sampel

Ditimbang 1 g sampel pada alumunium foil. Sampel dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL ditambah pengencer sampai 10 mL sehingga diperoleh pengenceran 1:10 dan dikocok hingga larut atau dengan bantuan vortek. Dilanjutkan dengan pengenceran yang diperlukan, yaitu 1:100 dan 1:1000.

5.1.7.2   Pemeriksaan Bakteri

Angka lempeng total (ALT)

Dipipet 1 mL dari tiap pengenceran ke dalam cawan petri yang steril (duplo), dengan menggunakan pipet yang berbeda dan steril untuk tiap pengenceran. Ke dalam tiap cawan petri dituangkan 10-20 mL media Plate Count Agar (PCA) yang telah dicairkan bersuhu kurang lebih 45oC. Cawan Petri digoyangkan dengan hati-hati (putar dan goyangkan ke depan dan ke belakang serta ke kanan ke kiri) hingga sampel bercampur rata dengan perbenihan. Kemudian dibiarkan hingga campuran dalam cawan petri membeku. Cawan petri dengan posisi terbalik dimasukkan ke lemari inkubator suhu 36-37oC selama 24-48 jam. Dicatat pertumbuhan koloni pada masing-masing cawan yang mengandung 30-300 koloni. ALT dihitung dalam koloni/g sampel dengan mengkalikan jumlah rata-rata koloni pada cawan dengan faktor pengenceran yang sesuai.

.

Coliform

Dipipet 1 mL dari tiap pengenceran ke dalam tabung dengan menggunakan pipet yang berbeda dan steril untuk tiap pengenceran, yang masing-masing berisi 9 mL MCB (Mac Conkey Broth) yang di dalamnya terdapat tabung Durham terbalik. Kemudian disimpan dalam inkubator pada suhu 36-37oC. Setelah 48 jam kemudian dicatat jumlah tabung yang terbentuk gas pada masing-masing pengenceran.

Kapang dan Khamir

Dipipet 1 mL dari tiap pengenceran ke dalam cawan petri yang steril (duplo), dengan menggunakan pipet yang berbeda dan steril untuk tiap pengenceran. Ke dalam tiap cawan petri dituangkan 10-20 mL media PDA (Potato dextrose Agar) yang telah dicairkan bersuhu kurang lebih 45oC. Cawan Petri digoyangkan dengan hati-hati (putar dan goyangkan ke depan dan ke belakang serta ke kanan ke kiri) hingga sampel bercampur rata dengan perbenihan. Kemudian dibiarkan hingga campuran dalam cawan petri membeku. Cawan petri dengan posisi terbalik dimasukkan ke lemari inkubator suhu 25-26oC selama 5-7 hari. Dicatat pertumbuhan koloni pada masing-masing cawan yang mengandung 40-60 koloni. Dihitung kapang khamir dalam koloni/g sampel dengan mengkalikan jumlah rata-rata koloni pada cawan dengan faktor pengenceran yang sesuai.

Hasil penetapan cemaran mikroba ketiga ekstrak dapat dilihat pada Tabel 6.

 

 

 

Tabel 6. Hasil cemaran mikroba

Parameter

Ekstrak Sukoharjo

Ekstrak Kendal

Ekstrak Karanganyar

Angka Lempeng Total (ALT)

< 10 koloni/g

< 10 koloni/g

< 10 koloni/g

Coliform

< 3 koloni/g

< 3 koloni/g

< 3 koloni/g

Kapang dan Khamir

< 10 koloni/g

< 10 koloni/g

< 10 koloni/g

E. coli

(-) negatif

(-) negatif

(-) negatif

S. aureus

(-) negatif

(-) negatif

(-) negatif

Salmonella sp.

(-) negatif

(-) negatif

(-) negatif

 

5.1.8 Cemaran Aflatoksin

Terhadap larutan ekstrak dan baku aflatoksin dilakukan kromatografi lapis tipis sebagai berikut:

Fase diam             : Lempeng pra lapis silica gel (E Merck)

                                    Baku aflatoksin    : Campuran siap pakai terdiri atas 5,0 µg

                                                                   Aflatoksin B1 ; 1,5 µg  Aflatoksin B2 ; 5,0 µg

                                                                   Aflatoksin G1 ; 1,5 µg Aflatoksin Gdalam larutan

                                                                   campuran toluene dan asetonitril (98:2).

Pengembang         : Campuran Kloroform-Aseton-n-Heksana

                               (85:15:20)

Jarak rambat         : 8 cm

                                    Penampak bercak : Bercak berwarna biru atau hijau kebiruan setelah

                                                                   lempeng diletakkan dibawah sinar UV 366 nm

                                                                   menandakan Aflatoksin positif.

Hasil: tidak terdeteksi adanya Aflatoksin.

5.2     Parameter Spesifik

5.2.1 Senyawa Identitas

5.2.1.1 Senyawa Identitas dan Rumus Bangun8

Senyawa identitas: Morin

Rumus bangun      : 

 

5.2.1.2 Kadar Kandungan Kimia Tertentu

Kandungan morin ditetapkan dengan metode KLT-Densitometri sebagai berikut:

Ditimbang seksama 100 mg ekstrak, kemudian dimasukkan kedalam flakon dan dilarutkan dengan 4 mL metanol p.a. Larutan dihomogenkan selama 5 menit dengan sonikator, larutan dipindahkan dalam labu takar 5 mL, kemudian ditambahkan metanol p.a sampai tepat 5 mL. Larutan yang diperoleh ditotolkan pada lempeng silika gel 60 F254 sebanyak 2 µL. Dibuat seri kadar morin dengan konsentrasi 1; 0,8; 0,6; 0,4 dan 0,2 mg/mL, masing-masing ditotolkan sebanyak 2 µL pada lempeng silika gel 60 F254. Larutan ekstak dan larutan seri kadar pembanding yang telah ditotolkan kemudian dielusi dengan fase gerak n-Heksan-etil asetat-asam formiat (6:4:0,6). Bercak yang diperoleh diukur dengan densitometer pada λ 284 nm. Luas area yang didapat pada pengukuran sampel dibandingkan dengan kurva baku dari standar, sehingga diperoleh kadar morin dalam ekstrak.

Hasil pengukuran didapatkan kadar morin dalam sampel: 7,8% – 9,8%.

5.2.2 Kadar Sari Larut Air9

Metode dan Hasil Penetapan Kadar

Sebanyak 1,0 g ekstrak dimaserasi dengan 25,0 mL air-kloroform LP selama 24 jam, menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama. Kemudian didiamkan selama 18 jam dan disaring. Filtrat air sebanyak 5,0 mL diuapkan dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara, residu dipanaskan pada suhu 105oC hingga bobot tetap. Kadar sari larut air dihitung dalam persen terhadap ekstrak awal.

Hasil : 33,31% – 59,03%

Hasil penetapan kadar sari larut air dapat dilihat pada Tabel 7

Tabel 7. Hasil kadar sari larut air

No.

Asal Simplisia

Berat cawan

(g)

Berat

sari+cawan

(g)

Berat sari (g)

Kadar  sari

larut air

( %)

Rata-rata (%)

Sukoharjo

53,4423

53,5614

0,1191

59,544

59,029

1.

53,1432

53,2612

0,1180

59,006

49,7020

49,8191

0,1171

58,538

Kendal

47,5706

47,6421

0,0715

35,718

35,487

2.

53,7779

53,8499

0,0720

36,000

51,6654

51,7349

0,0695

34,743

Karanganyar

61,2387

61,3056

0,0669

33,450

33,314

3.

49,0973

49,1633

0,0660

33,000

51,6702

51,7372

0,0670

33,493

 

 

5.2.3 Kadar Sari Larut Etanol9

Metode dan Hasil Penetapan Kadar

Sejumlah 1,0 g ekstrak dimaserasi dengan 25,0 mL etanol 96%, selama 24 jam dengan menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama. Kemudian dibiarkan selama 18 jam dan disaring cepat menghindarkan penguapan etanol. Filtrat sebanyak 20 mL diuapkan dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara. Residu dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot tetap. Kadar sari larut etanol dihitung dalam persen terhadap ekstrak awal.

Hasil : 90,17% – 99,19%

Hasil penetapan kadar sari larut etanol dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Kadar sari yang larut dalam etanol

No.

Asal Simplisia

Berat cawan

(g)

Berat sari+cawan (g)

Berat sari

(g)

Kadar  sari

larut  etanol

(%)

Rata-rata

(%)

Sukoharjo

46,2670

46,4529

0,1859

93,192

95,855

1.

52,1677

52,3519

0,1842

92,082

46,4320

46,6142

0,1822

91,118

Kendal

49,6366

49,8287

0,1921

96,021

99,187

2.

49,0956

49,2861

0,1905

95,231

53,1396

53,3323

0,1927

96,311

Karanganyar

50,1958

50,3772

0,1814

90,682

90,167

3

46,6817

46,8629

0,1812

90,618

47,9071

48,0855

0,1784

89,200

5.3       Uji Kandungan Kimia Ekstrak

5.3.1 Pola Kromatogram KLT Ekstrak

Fase gerak                 : n-heksan-etil asetat-asam format (6 : 4 : 0,6)

Fase diam                 : Silika gel GF254, jarak elusi 8 cm

Larutan uji                : 1%  dalam metanol

Larutan pembanding: morin 0,1 % dalam  metanol

Volume penotolan    : 3 µL larutan Uji dan 2 µL larutan pembanding.

Deteksi:

S   : Sampel ekstrak Lignum Nangka

P   : Pembanding Morin

Rf  Pembanding 0,18 pada

  1. UV 254, pemadaman
  2. UV 366,fluorosensi hijau
  3. Sinar tampak, kuning

5.3.2 Kadar Total Kandungan Kimia

5.3.2.1 Penetapan Kadar Flavonoid Total10

Penetapan kandungan total flavonoid dilakukan secara kolorimetri dengan spektrofotometri visibel. Kandungan total flavonoid dalam ekstrak dinyatakan sebagai Kuersetin Equivalent (%) dari persamaan kurva baku kuersetin. Kuersetin sebanyak 10 mg ditimbang seksama kemudian dilarutkan dalam etanol 80%. Selanjutnya dibuat seri konsentrasi 2,6; 3,2; 4,4; 6,8; 11,6 μg/ml. Kemudian seri konsentrasi larutan standar tadi ditambah dengan etanol 95% hingga 1 ml dan ditambahkan 0,1 ml alumunium klorida 10% dan 0,1 ml kalium asetat 1 M, ditambah aquabidest hingga 5,0 ml. Setelah diinkubasi selama 25 menit pada suhu kamar, absorbansi diukur pada panjang gelombang 437 nm. Pengukuran absorbansi dibandingkan terhadap blangko. Persamaan kurva baku diperoleh dari regresi linier antara kadar kuersetin (X) dengan absorbansi (Y). Ekstrak etanol 1% diperlakukan sama dengan prosedur di atas, diulang sebanyak 3 kali.

Hasil : 1,93% – 3,63%.

Hasil penetapan kadar flavonoid total dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9.  Kadar flavonoid total

No.

Asal Simplisia

QE   (%)

QE Rata-rata (%)

1

Sukoharjo

2,03

1,93

1,94

1,81

2

Karang anyar

3,53

3,53

3,54

3,52

3

Kendal

3,98

3,65

3,44

3,45

5.3.2.2 Penetapan Kadar Fenolat Total dengan Metode Folin Ciocalteu11

Kadar fenolat total dalam ekstrak dinyatakan sebagai Gallic Acid Equivalent (%) dari kurva baku asam galat. Asam galat 0,04% dalam aquabidest dibuat seri konsentrasi 2, 4, 6, 8, dan 10 μg/ml, ditambah dengan 0,2 ml Folin Ciocalteu (setelah diencerkan dengan aquabidest 1:1), dicampur homogen selama 10 detik kemudian didiamkan selama 5 menit. Lalu ditambah 2 ml Na2CO3 7% b/v (dalam aquabidest), dicampur homogen selama 30 detik, lalu ditambah dengan aquabidest hingga 5,0 ml dalam labu takar. Diamkan selama 95 menit. Absorbansi diukur pada panjang gelombang maksimum 749,5 nm dengan spektrofotometer. Persamaan kurva baku diperoleh dari regresi linier antara kadar asam galat (X) dengan absorbansi (Y). Ekstrak dibuat konsentrasi 1% diperlakukan sama dengan asam galat, diulang sebanyak 3 kali.

Hasil: 30,20% – 40,95%

Hasil penetapan kadar fenolat total dengan Metode Folin Ciocalteu dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Kadar fenolat total dengan Metode Folin Ciocalteu

No.

Asal Daerah

GAE   (%)

GAE PURATA (%)

1.

Sukoharjo

37,38

36,79

36,82

36,16

2.

Kendal

40,05

40,95

42,15

40,65

3.

Karang anyar

29,70

30,20

30,30

30,61

Daftar pustaka

Anonim, 1982, Sistem Kesehatan Nasional, Departemen Kesehatan R.I, Jakarta.

Anonim, 1986, Sediaan Galenik, Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan R.I, Jakarta, Hal : 25 – 28

Anshel, N. C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi diterjemahkan oleh Ibrahim, F., edisi empat, Universitas Indonesia, Jakarta, 605-608.

Anonim, 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Departemen Kesehatan R.I, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan, Hal : 1 -37

Anonim, 2004, Ketentuan Pokok Pengelompokan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia, Surat Keputusan Badan Pengawasan Obat dan Makanan No: HK.00.05.4.2411, Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan.

Arung, E. T., Shimizu, K., Kondo, R., 2006a, Inhibitory Effect of Isoprenoid-substituted Flavonoids Isolated from Artocarpus heterophyllus on Melanin Biosynthesis. Planta Medica 72: 847-850.

Arung, E. T., Shimizu, K., Kondo, R., 2006b, Inhibitory Effect of Artocarpanone from Artocarpus heterophyllus on Melanin Biosynthesis. Biological and Pharmaceutical Bulletin 29: 1966-1969

Arung, E. T., Sukaton, E., Shimizu, K., Muladi, S., Kondo, R., 2008, Artocarpin, A Promosing Compound as Whitening Agent and Anti-skin Cancer, Journal Tropical Wood Science and Technology, Vol. 6, No. 1, 1-36.

Candrika, 2006, Hypoglycaemic Action of The Flavonoid Fraction of Artocarpus heterophyllus Leaf, Afr. J. Trad. CAM, 3(2): 42-50.

Davis, G. K. and Mertz, W., 1987, Copper, P, 301-364, In W, Mertz (Ed) Trace Elements in Human and Animal Nutrition, Academic Press, Inc. San Diego, CA.

Ersam, T., 2001, Senyawa Kimia Makromolekul Beberapa Tumbuhan Artocarpus Hutan Tropika Sumatera Barat, Disertasi ITB, Bandung.

Gandjar, I. G., Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Hal : 366-368, 379, 381-382, 385-386.

Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid V, Badan Litbang Kehutanan, Jakarta.

Harbone, J. B., 1987, Metode Fitokimia Penentuan Cara Modern Menganalisa Tumbuhan, Cetakan II, Diterjemahkan oleh Padinawinata, K., Soediro, I., Penerbit ITB Bandung

Helmi, A., Anggraini, N., Handayani, D., Rasyid, R., 2006, Standarisasi Ekstrak Etanol Daun Eugenia cumini Merr.,J. Sains Tek. Far., 11(2)

Isnawati, A., Raini, M., Aegantina, S., 2007, Standarisasi Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun Sembung (Blumea balsamifera (L.)) dari Tiga Tempat Tumbuh, Journal from JKPKBPPK, Vol. 16, No. 02, Jakarta.

Ma’rifin, H., 1981, Peranan Farmakologi Dalam Pengembangan Obat Tradisional Simposium Penelitian Tumbuhan Obat V, Yogyakarta.

Markham, K. R., 1988, Cara Mengidentifikasi Flavonoid, diterjemahkan oleh Padmawinata, K., Penerbit ITB, Bandung, Hal : 1 – 14.

Moffat, A. C., Osselton, M. D., Widdop, B., 2005, Clarke’s Analysis of Drug and Poisons, Electronic version, Pharmaceutical Press: London

Mursyidi, A. Dr., 1989, Analisis Metabolit Sekunder, PAU Bioteknologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Hal : 304 – 329.

Nurhuda, Soeradi, O., Suhana, M., dan Sodikin, M., 1995, Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Pare Terhadap Jumlah dan Motilitas Spermatozoa Tikus Jantan, Jurnal Kedokteran YARSI, Vol 3 dan 2.

Prihatman, K., 2000, Nangka (Artocarpus Heterophyllus Lamk), Sistem Informasi Manajemen Pembangunan dipedesaan, BAPPENAS, Hal : 1 – 2.

Rukmana, R, 1998, Budi Daya Nangka, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, Hal: 17

Stahl, E., 1985, Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi, diterjemahkan oleh Padmawinaka, K., Penerbit ITB Bandung, Hal: 3 – 11.

Santoso, 1989, Penggunaan Obat Tradisional Secara Rasional, Cermin Dunia Kedokteran, No. 59, 3-6, PT. Kagol, Jakarta.

Soetarno, S., dan Soediro, I. S., 1997, Standardisasi Mutu Simplisia dan Ekstrak Bahan Obat Tradisional, Presidium Temu Ilmiah Nasional Bidang Farmasi.

Soedibyo, M., 1998, Alam Sumber Kesehatan Manfaat dan Kegunaan, Balai Pustaka, Jakarta, Hal: 65

Suhartati, T., 2001, Senyawa Fenol Beberapa Spesies Tumbuhan Jenis Cempedak Indonesia, Thesis Kimia-ITB, Bandung.

Sumarno, 2001, Kromatografi Teori Dasar, Bagian Kimia Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Hal :31 – 34.

Syah, Y. M., 2005, Fitokimia, Kemotaksonomi dan sifat Biologis metabolit sekunder dari tanaman Sukun (Keluwih), Bulletin of The Indonesian Society of Natural Product Chemistry, 5(2), July-Desember, 33-50

Swarbrick, J., 2007, Encyclopedia of Pharmaceutical Technology Third Edition, PharmaceuTech, Inc, USA, Hal : 526

Van Steenis, C. G. G. J., 1992, Flora Untuk Sekolah di Indonesia, diterjemahkan oleh Surjowinoto, Pradnya Paramita, 35 – 69, 168, Jakarta.

Voigt, R., 1984, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh Soewandhi, S. N., Edisi 2, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: